Satu Kota Tiga Tuhan: “Etnografi” Yerusalem?

Kata Pengantar

Satu Kota Tiga Tuhan: “Etnografi” Yerusalem?

Fachry Ali

 

Saya berkerinyit, merasa lucu dan sekaligus terharu membaca naskah buku karya Teuku Taufiqulhadi ini. “Berkerinyit”, karena dalam pengantarnya, Taufiqulhadi menyebut saya —bersama dengan Jimly Asshidique— melarangnya mengambil kuliah “beberapa musim di Universitas Israel”. Mengapa? Karena saya, sebagaimana saya mengenal diri sendiri, tak pernah berusaha membatasi pengejaran pengetahuan dari sumber manapun. Jadi, bagaimana saya secara etis melarang Taufiqulhadi menuntut ilmu, walau bi Israil (kendati di Israel sekalipun)? Yang saya ingat, sepulangnya dari Israel, Taufiqulhadi pernah bertanya apakah saya menyetujuinya jika ia (Taufiqulhadi) membentuk sejenis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memperkenalkan budaya dan masyarakat “negara” itu kepada publik Indonesia. Untuk yang terakhir ini, saya menyampaikan keberatan. Walau sepenuhnya aktivitas itu akan menjadi tanggungjawab Taufiqulhadi sendiri, tetapi saya khawatir ia akan terisolasi dari “kelompok”-nya akibat dikenal berdekatan dan menjadi “corong” Israel di Indonesia. Keberatan saya ini menjadi lebih kuat karena pada saat itu Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) akan berlangsung di Cipasung pada 1994. Suara-suara kritis terhadap Kiai Abadurrahman Wahid yang mengunjungi dan memuji Israel telah dijadikan alat ampuh untuk menggagalkan hasratnya terpilih kembali sebagai ketua Tanfidziah Pengurus Besar (PB) NU. Jika Kiai Abdurrahman Wahid sendiri “tertekan” dengan perkara Israel, bagaimana Taufiqulhadi?

Maka, larangan saya mengembangkan LSM untuk mengenal­kan budaya dan masyrakat Israel kepada publik Indonesia adalah sesuatu yang berbeda dengan niatnya belajar di Universitas Israel. Lagi pula, ketika Taufiqulhadi pergi ke Israel, saya sedang tidak di dalam negeri, karena sedang menuntut ilmu di Monash Univer­sity, Melbourne, Australia.

Lalu, kenapa saya merasa lucu, tetapi sekaligus terharu mem­baca buku ini? Jawabannya adalah karena saya tak bisa memba-yangkan Taufiqulhadi, anak Pidie, cenderung memperlihatkan sikap “kaku” dan cenderung reaktif ketika pikiran atau argu­mentasinya dipertanyakan-balik, bisa menulis dengan suara hati, dengan irama emosi terungkap secara sistematis, seperti terlihat dalam buku ini? Coba bayangkan paragraf-paragraf Taufiqulhadi di bawah ini:

Sebagai ilustrasi, saya melihat kaos dengan gambar yang membuat kita tersenyum. Gambar yang tertera dalam kaos itu cukup mewakili suasana hati kedua masyarakat ini yang terpaksa harus menegur sapa satu dengan lainnya karena mengikuti ‘keceriaan’ internasional. Gam­bar ini memperlihat seorang Yahudi dan seorang Arab tengah saling menegur, sementara seekor unta memberi komentar.

 

Orang Yahudi: Hallo, kamu pengisap susu babi bunting!

Orang Arab: Hai, kamu peminum susu dari tetek unta kurus!

Unta: Nah, lihat bagaimana orang Yahudi dan Arab saling menyapa.1

 

Bagi saya, menekankan perhatian terhadap kaos itu telah menunjukkan ketajaman Taufiqulhadi atas fenomena sekitar. Wa­lau tampak sepele, kalimat-kalimat yang melibatkan Yahudi-Arab-unta itu mengungkapkan makna yang sebenarnya bagaimana jalan perasaan, jadi bukan pikiran, yang berlangsung di Timur Tengah. Dan penggambaran suasana yang hidup dilanjutkan Taufiqulhadi:

… Orang Yahudi, dengan Khitmad, berdoa dan menyen­tuh penuh haru Dinding Ratapan, yang diyakini bekas Kuil Sulaiman (Bayt Suci). Banyak di antara mereka yang datang dari belahan bumi lain, menarik secuil kerikil halus atau lumut yang melekat di tembok itu, kemudian dengan hati-hati dimasukkan ke dalam tas atau dompet­nya. Mungkin, orang Yahudi ini ingin membawa pulang secuil kerikil halus yang dicomot dari tempat paling suci ini, dan disimpan di dalam lemari untuk menjadi kenang-kenangan yang paling berwarna di dalam keluarganya.

 

Dan tentang ekspresi orang Kristen, Taufiqulhadi menulis:

Orang Kristen tumpah ruah untuk melihat Gereja Suci Sepulchre —yang di dalamnya terdapat karang Golgota, tempat Yesus disalib; dan makam suci, tempat Yesus dibangkitkan. Orang-orang Kristen yang taat ini memeluk penuh rindu bercampur duka karang berbentuk dipan tempat Yesus disemayamkan untuk sementara waktu setelah ia diturunkan dari kayu salib. Dengan air mata terurai, mereka meletakkan pipi di atas karang itu seakan-akan mereka tengah meletakkan pipinya di dada Yesus yang tak berdaya dan seakan merasakan langsung derita putra Maryam ini.

 

Tampak sekali, Taufiqulhadi luluh secara emosional dalam pengalaman hidup selama di Yerusalem. Lukisannya tentang tingkah-laku ibadah orang-orang Yahudi dan Kristen di kota itu mengindikasikan betapa perasaannya berusaha berpenetrasi sekuat-kuatnya ke dalam jiwa mereka yang sedang khusuk itu. Ia tidak ingin berada di luar, sebagai “tamu” jiwa-jiwa yang haus sentuhan spiritual di Dinding Ratapan dan Gereja Suci Sepulchre itu. Melainkan, sebagai bagian integral dari mereka. Deskripsi yang disajikan di atas, memperlihatkan kecenderungan ini. Dan emosinya tak segera menghilang setelah itu. Coba hayati paragraf Taufiqulhadi di bawah ini:

Hari-hari terakhir di Yerusalem, saya berjalan sebanyak yang dapat saya jangkau dengan menyusuri jalan-jalan sempit di kota kuno Yerusalem. Saat itu musim panas. Yerussalem pun berubah menjadi kota musim panas, yang seronok. Para pedagang menjual buah-buahan yang hanya muncul di musim panas; sementara buah almond yang enak dimakan dengan garam, telah menghilang karena buah itu hanya ada menjelang dan awal musim semi….. Saya duduk dengan kamera kecil di tangan di gerbang Damaskus, mengawasi pedagang kaki lima di gerbang tersebut yang berteriak riuh rendah, sementara para turis yang kebanyakan baru tiba, bergerak lamban melewati gerbang tersebut.

“Hari-hari terakhir”, “saya berjalan sebanyak yang dapat saya jangkau”, “rasa buah almond (yang enak dimakan dengan garam) yang hilang karena perubahan musim”, terasa sangat ekspresif di dalam paragraf di atas. Juga “duduk dengan kamera kecil di depan Gerbang Damaskus”, “riuh-rendah suara pedagang” tapi “tak mengusik para turis yang baru datang” adalah kalimat-kalimat yang berusaha mengkonservasi ingatan akan semarak kota tua bersejarah itu. Dan kesan mengkonservasi ingatan itu kian kuat ketika kita menemukan paragraf

 

Taufiqulhadi di bawah ini:

Saya duduk di batu tangga dan mengambil gambar se­banyak mungkin. Inilah panggung sandiwara terbaik di Yerusalem, dan saya tak ingin melepaskan begitu saja. Seluruh karakter drama konflik ini dengan mudah ter­tangkap di tengah hiruk pikuk orang melalui gerbang Damaskus. Saya awasi mereka dengan mata telanjang, sesekali saya intip melalui lensa kamera poket yang se­derhana itu, kemudian saya gantung kamera di dada, dan kini suara hiruk pikuk terdengar lebih keras.

Pilihan kata, susunan kalimat dan struktur berpikir yang ter­ungkap dalam paragraf terakhir ini memperlihatkan ritme emosi yang tergelar dengan sangat perlahan, langkah demi langkah. Tak ada ketergesaan yang terkesan di dalamnya. Dan Taufiqulhadi, walau secara fisik telah meninggalkan tempat itu, tetap berada xvi

di sana. Sebab, di sana, seperti kalimat penutup paragraf di atas memperlihatkan: “suara hiruk-pikuk terdengar lebih keras!” Dan riuh-rendah suara itu, bergabung dengan sejarah panjang kota tersebut, menampik lukisan dengan kata-kata. Bukan karena “ke­taksukaan”, melainkan karena khazanah kata-kata tak memadai untuk melukiskan struktur kejiwaan yang tenggelam di dalamnya.

Usai membacanya, saya bergumam dalam hati: Sép lagak lukisan drón, Fiq! Trép that lôn taheu aleuh membacanyan! (Cukup indah lukisanmu, Fiq. Lama saya merasa takjub setelah membacannya!).

Tetapi, bagaimana kita memberi makna atas isi buku ini?

 

II

Yang saya lihat adalah sebuah “etnografi” Yerusalem! Di sini, walau tidak dielaborasi Taufiqulhadi, kita menemukan frasa Judeo-Islamica sebagai pertanda adanya unsur “etnografi” itu. Maka, secara konseptual, Judeo-Islamica ini bisa kita lihat dasar (kendatipun “terpendam”) budaya Yerusalem. Orang-orang Yahudi, kendatipun telah berinteraksi dengan budaya Yunani (Helenisme) selama berabad-abad, menolak terintegrasi secara total ke dalamnya. Dengan mengambil sumber pada ahli Islam Bernard Lewis, Taufiqulhadi menyatakan di dalam buku ini bahwa karya-karya sarjana Yahudi yang menulis dalam bahasa Helenis tak pernah diterjemahkan ke dalam Ibrani, bahasa kaum Yahudi. Dan karena itu, Helenisme tak sempat mengalami pendalaman ke dalam struktur kesadaran orang-orang Yahudi. Sebaliknya, hubungan Islam-Yahudi yang mulai berkembang sejak abad ke-7 mengalami pendalaman secara signifikan. “Dari ketiga ini,” tulis Taufiqulhadi, “dengan Yunani Kuno, Islam Arab dan Kristen, Lewis melihat asosiasi Arab-Yahudilah sebagai yang paling penting dalam pembentukan ciri kebudayaan dan keagamaan masing-masing pihak.” Salah satu contoh yang dikemukakan Taufiqulhadi adalah Guide of the Perflexed (Pegangan dalam Kebingungan) karya filsof Yahudi Maimonedes (1135-1204). Karya ini bukan saja tertulis di dalam bahasa Arab, melainkan sangat dipengaruhi pandangan-pandangan Islam.

Dan karena itu, tak mengherankan, jika bahasa Arab menjadi wahana ekspresi intelektual orang-orang Yahudi. “Pada 1000 M, 300 tahun setelah penaklukan Islam,” tulis Taufiqulhadi, “kebanyakan orang Yahudi yang hidup dalam Islam berbicara dan menulis dalam bahasa Arab. Bahasa Arab sendiri menjadi bahasa Yahudi, ungkap Goittein, dan dipergunakan oleh orang Yahudi untuk segala tujuan sekuler dan keagamaan, dengan kekecualian pada hal-hal terpokok berkaitan dengan kebaktian di Sinagog.” Fakta ini memperlihatkan bagaimana penetratifnya Islam dan bahasanya (Arab) hingga dijadikan sebagai sarana komunikasi bahkan di dalam dunia keagamaan orang-orang Yahudi.

Taufiqulhadi memang tidak memberi penjelasan apa wujud kongkret pengaruh Yahudi atas Islam —dalam kerangka Judeo-Islamica itu— di dalam buku ini. Dalam posisi “sambil lalu”, Taufiqulhadi memberi deskripsi bagaimana bahasa Arab berpengaruh pada “pengayaan kata” bahasa Ibrani. Kata wahid dalam bahasa Arab, yang berarti satu, misalnya, menjadi ehad dalam bahasa Ibrani. Demikian juga khamsah, yang berarti lima dalam bahasa Arab menjadi khamesh dalam bahasa Ibrani. Akan tetapi, jejak “Islamica” yang memberikan pengaruh atas proses identifikasi budaya bagi Arab Palestina terdeteksi dengan bagus. Ini terungkap dalam kisah Taufiqulhadi tentang pendapat mahasiswa Arab Palestina dalam sebuah diskusi. “Identitas kami adalah Arab,” kata mahasiswa Universitas Ibrani, Yosef —lahir di Nazareth dan beragama Kristen. “Tidak perduli itu orang Kristen atau Islam. Kami bangga dengan identitas kami, dan berusaha mempertahankannya.” Yosef, tentunya tidak sendiri. Enam orang mahasiswa dan mahasiswa yang menjadi pembicara dalam event diskusi itu memberikan kesaksian yang mirip, walau dengan tekanan yang berbeda. Dalam konteks Yosef, jejak kesadaran yang dicetak oleh sejarah the way of suffering —yang terlukis dalam lagu “Via Dolorosa” dan menggambarkan keperihan langkah Jesus menelusuri lorong-lorong kota Yerusalem menuju penyaliban di Calvary— terasa kuat.

Dalam spekulasi saya, Judeo-Islamica ini secara teoritis mem­beri bagan besar “etnografi” Yerusalem dan menandai bagaima­na interaksi antara ketiga kelompok agama itu di kota tersebut. Tentu, di dalam masing-masing “aliran” ketiga agama itu terdapat “faksionisme” tersendiri. Taufiqulhadi dalam buku ini melukiskan bagaimana Yahudi bukan saja secara asal usul “geografis” terbe­lah antara Sephardi (Yahudi yang berasal dari Timur Tengah dan Afrika) dan Ashkenazi (Yahudi berasal dari negeri-negeri Barat), melainkan juga secara ideologis terpecah ke dalam tiga “faksi”: reformis, konservasi dan ortodoks. “Pertarungan” di antara me­reka sama sengitnya dengan “pertarungan” antara orang-orang Yahudi dan Arab Palestina. “Faksi” ortodoks Yahudi, misalnya, hingga ketika Taufiqulhadi berada di Yerusalem akhir 1990-an, tetap menolak negara Israel. Konflik terpendam antar faksi Yahu­di itu terlukis dengan baik dalam tulisan pendek Taufiqulhadi tentang purim —hari raya suci Yahudi. Juga ada strata kelas da­lam masyarakat Yahudi sebagai konsekuensi struktural-geografis asal-usul mereka. Kelompok Falashas, Yahudi hitam asal Ethiopia, tampaknya berada dalam strata terendah masyarakat Yahudi di Yerusalem.

Kendatipun demikian, Judeo-Islamica ini terefleksi dalam kehidupan sehari-hari, terutama di pasar. Di sini, sebuah panggung yang secara struktural mendorong orang saling berinteraksi tanpa pandang latarbelakang etnik dan agama, pedagang-pedagang Arab Palestina melayani pembeli Yahudi di dalam bahasa Ibrani. Sementara orang-orang Yahudi memahami bahasa Arab. Integrasi budaya ini secara telanjang terjadi ketika kita temukan dalam buku ini betapa Abu Shed, seorang yang berasal dari suku Badui malah bertindak sebagai guru bahasa Ibrani. Maka tak mengherankan jika ada peristiwa di mana seorang pemuda Arab-Palestina membangun hubungan cinta dengan gadis Yahudi di Yerusalem. Bukankah, seperti dilukiskan Taufiqulhadi dalam buku ini, para pelacur Yahudi lebih suka mucikari Arab daripada mucikari kaumnya sendiri? Sebab, mucikari Arab, walau kasar, lebih “jujur” daridapa Yahudi. Dan Mahmoud Azzi, seorang aktor Arab-Palestina yang kerap muncul dalam film-film Yahudi mengubah sedikit nama belakangnya menjadi “Artzi”. Jadi kata “Azzi” ditransformasikan menjadi “Artzi” —agar lebih familiar dengan bahasa Ibrani.

Apa yang menarik dan mempunyai unsur “etnografi” dalam buku ini adalah deskripsi Taufiqulhadi tentang golongan-golongan atau aktor-aktor yang berartikulasi di masyarakat Yerusalem. Menurut saya, Taufiqulhadi cukup jeli mengangkat perilaku bocah-bocah penjual kartu pos di kota kuno ini. Ia melukiskan bagaimana lucunya, dengan kegigihan luar biasa, logika yang digunakan para bocah itu dalam menjajakan “komoditas”-nya kepada turis. Ketika seorang turis bertanya kenapa ia harus membeli kartu pos yang dijajakan sang bocah, pedagang cilik ini menjawab sekenanya: “If you buy my card, God will bless you!” Taufiqulhadi bukan saja hapal beberapa nama bocah pedagang itu, melainkan juga mengetahui siapa di antara mereka yang menjadi anak pemilik toko cenderamata dan mana yang tidak. Status bocah pedagang ini, dengan demikian, menentukan “keuntungan ekonomis” bagi anak-anak itu sendiri. Bersamaan dengan itu, Taufiqulhadi bercerita tentang etnik yang terpinggirkan karena ekspansi pembangunan perumahan Yahudi yang ambisius. Ini terlihat pada suku Badui Nagev yang pada waktu itu berjumlah 100.000 jiwa. Suku ini sejatinya kalangan tradisional. Ini ditandai oleh fakta bahwa salah seorang tokoh Badui Nagev ini mempunyai 39 atau, tulis Taufiqulhadi, “bahkan 40” isteri. Modernisasi Israel telah membuat anggota-anggota muda suku ini menjadi kian terpelajar. Beberapa di antara mereka bukan saja telah mencapai master dalam pendidikan, tetapi bahkan berhasil mencapai PhD. Akan tetapi, keterpelajaran mereka mendorong integrasi suku Badui ke dalam skema politik Israel. “Saya salah satu dari sedikit anak Badui yang biasa menyanyikan Hatikva,” kutip Taufiqulhadi atas ujaran Abu Shed, tokoh muda Badui terpelajar yang telah kita sebut di atas. Hatikva adalah lagu nasional Israel, dan dengan melagukannya, Abu Shed secara politik telah tunduk kepada supremasi kekuasaan Isreal. Akan tetapi, suku Badui inilah yang tersingkir dari tanah leluhur mereka. Di atas tanah leluhur itu telah berdiri Kibbutz —kompleks perumahan Yahudi paling awal yang statusnya seakan-akan “negara dalam negara”.

Sejalan dengan ini, Taufiqulhadi melukiskan posisi ekonomi Arab-Yerusalem. Ini diawali oleh kekesalan Taufiqulhadi atas seorang pedagang Arab penjual kaus oblong yang menganggapnya berasal dari negeri miskin. Akan tetapi, dengan menelusuri tulisannya lebih lanjut kita bisa menyimpulkan bahwa Arab- Palestina secara psikologis mempersepsikan kehidupan ekonomi mereka sebagai bagian dari ekonomi Israel secara keseluruhan. Standar penilaiannya bahwa Taufiqulhadi berasal dari “negeri miskin” mengacu pada perekonomian Isreal sebagai “ekonomi nasional” mereka. “Anda baru tahu miskin jika anda keluar negeri,” ujar pedagang Arab-Palestina itu kepada Taufiqulhadi. “Uang yang bisa hidup dua bulan di negera Anda,” lanjutnya, “mungkin cukup untuk hidup satu pekan di negara lain.” Walau kesal, Taufiqulhadi mengungkapkan fakta bahwa income per capita Israel pada waktu itu mencapai 16.000 dollar Amerika Serikat. Jauh di atas income per capita Indonesia yang hanya 900 dollar Amerika Serikat. Dilihat dari konteks ini, Taufiqulhadi memang berasal dari negeri “miskin”.

Dengan fakta ini terlihat dengan jelas bahwa Israel, yang baru berdiri pada 1948 itu, lebih berhasil meraup keuntungan dalam proses integrasi diri ke dalam perekonomian global. Dalam arti kata lain, ekonomi Israel adalah ekonomi modern dan kompetitif. Dan ini, secara struktural, mempengaruhi imajinasi Arab-Palesti­na. Di Gaza, wilayah di mana Arab-Palestina menemukan otono­mi-nya, dengan tajam Taufiqulhadi menunjuk pada iklan remaja yang sedang berciuman pada sebuah restoran Kentucky Fried Chicken. Iklan itu mengungkapkan sesuatu yang bersifat drama­tis: imajinasi kehidupan ekonomi modern dan dengan itu, peno­lakan terhadap sistem ekonomi yang pernah berlaku sebelumnya. Penggalian Taufiqulhadi lebih lanjut memperlihatkan kejeliannya sebagai “etnografer”. Lagu yang terdengar di restoran itu bukan Arab, melainkan Barat, yaitu “Killing Me Softly”. Dan pengelola restoran itu adalah anak-anak muda profesional. Dengan fakta ini saja kita bisa mengambil kesimpulan bahwa budaya dominan yang sedang dikembangkan adalah budaya (perekonomian) Ba­rat. Sebab, antara pelaku bisnis dengan konsumen “menyatu”. Para pendatang yang berkerumun di dalam restoran tersebut, meski berjilbab, pada dasarnya adalah pendukung budaya Barat —di sepenggal tanah kaum Palestina itu.Akan tetapi, yang lebih menarik adalah pemilik restoran ini. Taufiqulhadi menunjuk Zaki Ghali, seorang anak muda, yang menjadi pemiliknya. Dan melalui Zaki Ghali ini terungkap sistem politik-ekonomi Gaza yang bersifat elitis. Mengapa? Karena, seperti dilukiskan Taufiqulhadi, Zaki adalah adalah putra Brigadir Ghali, panglima kelautan PLO di bawah Yasser Arafat. Setelah mendapat otoritas pemerintahan, hasil Perjanjian Gaza- Jericho pada Mei 1994, bisnis-bisnis “modern” di Gaza dikelola para elite “mantan pejuang” ini. Dan ini mempunyai konsekuensi “antropologis”. Coba kita lihat deskripsi Taufiqulhadi di bawah:

Dalam tiga tahun sejak PA menandatangani Perjanjian Gaza-Jericho pada Mei 1994, yang mengakhiri 30 tahun ‘era revolusioner’ PLO di pengasingan, penduduk Gaza kini tengah bergerak dalam bentuk revolusinya sendiri. Percampuran keluarga lama di Gaza antara kelompok elite kecil yang sedikit aristokratik dan para pengusaha kaya yang anggun bersama kaum pengungsi dari 1948, yang meliputi dua pertiga dari satu juta penduduk Gaza, kini hampir terhapus sama sekali.

Paragraf di atas dengan ringkas melukiskan pudarnya struk­tur sosial lama warisan masa lalu Palestina dan munculnya ke­lompok-kelompok sosial-ekonomi baru atas dasar “modernisasi ekonomi” dengan acuan Barat. Zaki Ghali, pemilik restoran di atas, adalah contoh menarik tentang perubahan struktur sosial Gaza tersebut. Sebab, seperti dilukiskan Taufiqulhadi, ia tidak ingin berhenti hanya pada restoran ayam goreng itu saja. “Jika berkembang,” tulisan Taufiqulhadi tentang hasrat Zaki, “maka ia ingin membuka sebuah cafe mewah. Atau mungkin sebuah dis­kotek.” Sebuah Imajinasi bisnis yang melompat jauh dari pagar budaya Arab tradisional. Dan imajinasi ini ditunjang oleh kom­posisi baru masyarakat Gaza pasca Perjanjian. Mereka ini terdiri dari kelompok-kelompok pejuang yang pulang dari pengasingan: Beirut, Amman, Tunisia dan Kairo. Para “pendatang” ini segera bergabung ke dalam masyarakat Gaza —yang tak pernah me­ninggalkan tanah itu, bekas pejuang jalanan di masa Intifada, veteran tentara Pembebasan Palestina dari bekas markas mereka di padang pasir Iran dan Libya. Taufiqulhadi memang melukis­kan bahwa Yasser Arafat, tokoh yang berada di puncak hierarki struktur sosial tersebut, tidak berubah dalam bersikap dan tetap sederhana. Akan tetapi, “kemerdekaan terbatas” yang diperoleh Palestina di Gaza tersebut segera menjadi ajang kompetisi politik-ekonomi yang pada umumnya dimenangkan para “pendatang” yang menjadi slagorde utama PLO.

 

III

Tentu, dengan perkembangan terbaru di Palestina, akurasi deskripsi Taufiqulhadi dalam buku ini memerlukan revisi. Akan tetapi, harus diakui, karya Taufiqulhadi ini adalah yang terbaru bagi pembaca Indonesia untuk memperoleh lukisan “etnografi” Yerusalem. Kesimpulan di atas terutama lebih berlaku untuk saya yang sama sekali buta tentang masyarakat Yerusalem dan Palestina pada umumnya. Dalam pendapat saya, melalui buku ini Taufiqulhadi telah mempersembahkan jeroan (isi perut) masyarakat Yerusalem. Sebuah “etnografi” masyarakat Yerusalem dan Palestina melalui lukisan budaya, ideologi, politik dan ekonomi —seperti yang dipersembahkan dalam buku ini.

 

Jakarta, 30 Mei 2017